Bukan Lagi Pesta, Gen Z Kini Cari ‘High’ di Jogging Track

Jakarta, Frothy Girlz Indonesia

Ada masa ketika melepas penat sering dibayangkan lewat musik keras, lampu kelap-kelip, alkohol dan zat-zat adiktif lainnya, hingga pulang menjelang pagi. Nongkrong di klub, party, atau sekadar menghilang sebentar dari rutinitas menjadi salah satu cara untuk merasa hidup.

Belakangan, bayangan itu pelan-pelan bergeser. Ingar bingar pesta yang dulunya ramai kini berubah menjadi

jogging

santai, pilates, hingga tanding padel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi sebagian gen Z, bersenang-senang tidak lagi harus identik dengan ingar bingar pesta semalam suntuk. Rasa lega justru dicari lewat keringat, langkah kaki, dan tubuh yang terasa lebih ringan setelah bergerak.

Anton (25) termasuk yang memilih cara itu. Saat pekerjaan terasa berat atau pikiran sedang penuh, ia lebih memilih berlari, berenang, atau pergi ke

gym

, alih-alih mencari pelarian lewat

party

atau klub malam.

“Aku

prefer

olahraga daripada

party

, ke

club

, dan sejenisnya. Karena untukku pribadi, kegiatan olahraga lebih banyak positifnya,” ujar Anton pada

Frothy GirlzIndonesia.com

, beberapa waktu lalu.

Buat Anton, olahraga bukan sekadar mengikuti tren hidup sehat. Kegiatan fisik, menurutnya, memberi dampak yang lebih nyata dan tahan lama dibanding kesenangan yang hanya terasa sesaat.

Kendati demikian, bukan berarti Anton memandang negatif orang-orang yang doyan pergi berpesta. Sah-sah saja, namun buatnya, olahraga terasa lebih masuk akal.

Olahraga dilihat Anton sebagai investasi tubuh untuk hari tua. Selain membuat tubuh lebih sehat dan bugar, olahraga juga tidak selalu harus mahal.

Cerita yang mirip datang dari Kharina (24). Saat punya waktu luang atau ingin melepas penat, ia lebih sering memilih

jogging

, jalan kaki jauh, atau

body

workout

ringan di rumah seperti aerobik dan

mat pilates

.

Buat Kharina, olahraga memberi ruang untuk mendengarkan diri sendiri. Ia tidak perlu memikirkan suasana ramai, tekanan sosial, atau biaya yang membengkak seperti saat pergi

party

.

Party tuh

rasanya lebih

nguras

energi. Kalau olahraga

kan

ya sudah,

mikirin

diri kita sendiri aja, dengar apa yang badan kita

butuhin

. Jadi enggak

overwhelmed

sama keramaian,” ujarnya.

Pertimbangan biaya juga ikut berpengaruh. Dalam kondisi ekonomi yang serba diperhitungkan, Kharina merasa

party

sering kali tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga dompet.

Di sekelilingnya, Kharina juga menangkap perubahan cara anak muda menghabiskan waktu. Jika dulu unggahan soal

party

atau klub malam lebih sering muncul, kini ia melihat lebih banyak teman-temannya dipenuhi dengan kegiatan berolahraga.

“Udah jarang banget lihat

story

orang

party

di club klab,” ujar Kharina.

Saat anak muda mulai lebih selektif

Kecenderungan sebagian anak muda menjauh dari

party

, alkohol, atau zat adiktif tidak hanya muncul dari cerita Anton dan Kharina.

Laporan

European School Survey Project on Alcohol and Other Drugs

(ESPAD) mencatat, penggunaan alkohol, rokok, dan ganja pada remaja usia 15-16 tahun di Eropa menunjukkan tren penurunan jangka panjang. Alkohol memang masih mudah diakses, tetapi penggunaan secara umum dan

binge

drinking

menurun dari waktu ke waktu.

Studi lain dari

The British Journal of Sociology

juga mencatat munculnya istilah

generation sensible

, yakni generasi muda yang lebih selektif terhadap alkohol dan cenderung memilih membatasi konsumsi atau tidak minum sama sekali.

Di Indonesia, data Badan Narkotika Nasional (

BNN

), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Pusat Statistik (BPS) sempat menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika turun dari 1,95 persen pada 2021 menjadi 1,73 persen pada 2023. Data terbaru 2025 menunjukkan angka itu kembali naik menjadi 2,11 persen, sehingga perubahan ini tetap perlu dibaca hati-hati.

Memang tidak bisa disimpulkan bahwa semua Gen Z meninggalkan alkohol, narkoba, atau

party

. Namun, hal ini jadi tanda bahwa sebagian anak muda mulai lebih selektif dalam memilih cara bersenang-senang, melepas stres, dan menghabiskan waktu luang.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

Standar keren yang ikut bergeser

Media sosial boleh jadi salah satu faktor yang memicu pergeseran tentang apa yang dianggap ‘keren’ oleh sebagian anak muda masa kini. Namun, membaca tren hidup sehat di media sosial juga perlu berhati-hati.

Apa yang muncul di linimasa seseorang sering kali dipengaruhi algoritma, lingkungan sosial, dan kelas ekonomi pengguna.

“Algoritmanya kan biasanya sesuai dengan latar sosial dan ekonomi penggunanya. Jadi orang-orang tertentu akan lebih banyak mendapatkan informasi kesehatan,” kata pengamat budaya populer Hikmat Darmawan kepada

Frothy GirlzIndonesia.com

.

Konten soal pola makan, diabetes, kesehatan seksual, olahraga, sampai kebugaran terus berseliweran dan membentuk percakapan baru soal cara hidup yang dianggap ideal. Pelan-pelan, hal itu ikut memengaruhi apa yang terlihat menarik di mata sebagian anak muda.

Bagi Hikmat, yang berubah bukan hanya aktivitasnya. Yang ikut bergeser adalah model ideal yang dijadikan rujukan anak muda.

“Kalau soal adiksi, itu,

kan

, konsumsi yang berlebihan. Menurut saya yang berubah sekarang itu model-model idealnya juga mulai berbeda. Yang dulu mungkin dianggap keren itu urakan, senangnya Rolling Stone.

Nah

, itu semuanya juga adiksi,” katanya.

[Gambas:Photo Frothy Girlz]

Setiap generasi memiliki simbol apa yang dianggap ‘keren’ masing-masing. Pada masa tertentu, perilaku yang dekat dengan alkohol, rokok, atau sikap rebel bisa dianggap menarik. Kini, sebagian anak muda urban justru menemukan identitas sosial melalui aktivitas yang berhubungan dengan kebugaran, komunitas olahraga, dan tubuh yang aktif.

“Yang berubah adalah apa yang dianggap keren, apa yang dikonsumsi, dan ruang sosial tempat anak muda mencari kesenangan itu,” tuturnya.

Pergeseran itu juga tampak dari ruang-ruang yang kini akrab dengan anak muda urban.

Gym

, studio olahraga, komunitas lari, kelas yoga, sampai lapangan padel menjadi tempat baru untuk bertemu orang, membangun rutinitas, sekaligus menunjukkan identitas.

“Dulu ada pola-pola penggunaan ruang. Ada ruang-ruang kosong yang dekat-dekat dan terfasilitasi untuk adiksi terhadap narkotika dan macam-macam,” kata Hikmat.

Kini, ruang semacam itu punya bentuk yang berbeda.

“Sekarang ada ruang-ruang artifisial, seperti

gym

. Paling tidak ada ruang untuk aktivitas fisik,” tambahnya.

Rasa lega yang bikin ingin mengulang

Pesta memberi kesenangan cepat, tetapi juga terasa lebih mahal, melelahkan, dan kadang meninggalkan rasa kosong setelahnya. Olahraga, sebaliknya, memberi rasa lega yang muncul pelan-pelan, tetapi efeknya bisa terbawa sampai setelah aktivitas selesai.

“Sensasi lainnya, pikiran menjadi lebih tenang dan rasanya ringan,” kata Anton.

Kharina merasakan hal yang sama. Setelah rutin bergerak, ia merasa suasana hatinya lebih stabil dan tubuh lebih enak dipakai beraktivitas.

“Yang gue

rasain

setelah rutin olahraga

tuh mood

jadi lebih stabil.

Udah gitu

, badan jadi lebih enteng buat dipakai beraktivitas,” katanya.

Rasa itu yang membuat mereka kembali mengulang. Bukan hanya karena ingin tubuh lebih ideal, tetapi karena ada perasaan lebih beres setelah bergerak.

Bagi mereka yang rutin berolahraga, yang dicari ternyata bukan sekadar tubuh lebih bugar. Ada rasa lega, puas, dan tenang yang membuat seseorang ingin melakukannya lagi.

Bagi Anton, rasa ‘

high

‘ dari olahraga bukan euforia sesaat seperti yang mungkin dicari sebagian orang lewat alkohol atau zat adiktif. Ia memaknainya sebagai kondisi ketika tubuh dan pikiran terasa lebih hidup dari dalam.

High

menurutku bukan tentang euforia sesaat, tetapi kondisi saat seseorang termotivasi dan

full energic

dari dalam diri sendiri,” kata Anton.

Kharina merasakan hal serupa dengan bahasa yang berbeda. Baginya, olahraga membuat ia lebih hadir di hari yang sedang dijalani, tanpa terlalu sibuk mengkhawatirkan masa depan atau menyesali masa lalu.

Aktivitas olahraga bisa jadi pelarian buat Kharina, tapi bukan pelarian yang membuatnya semakin kacau. Justru sebaliknya, ia merasa lebih tenang karena bisa kembali mendengarkan tubuhnya sendiri.

“Bisa jadi salah satu alternatif pelarian dari realita. Tapi kalau yang ini [olahraga] bisa bikin pikiran kita lebih tenang juga karena kita bisa dengar apa yang badan kita butuhin,” katanya.

Di tengah tekanan kerja, biaya hidup, dan kehidupan sosial yang serba cepat, pilihan sebagian Gen Z untuk berlari, nge-gym, pilates, atau jalan kaki jauh mungkin bukan sekadar soal tren.

Bagi mereka, itu cara lain untuk mencari senang tanpa harus pulang dengan tubuh makin lelah, dompet menipis, atau pikiran makin penuh. Party, klub, alkohol, dan narkoba belum tentu hilang dari kehidupan anak muda. Akan tetapi, bagi sebagian Gen Z, cara mencari lega memang sedang berubah.

Add

as a preferred

source on Google

Bukan Lagi Pesta, Gen Z Kini Cari ‘High’ di Jogging Track

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Alasan Komnas Perempuan Sebut Penyiksaan YTR Belum Masuk Standar PBB

Baca lagi: Jadwal Siaran Langsung Kolombia vs Portugal di Piala Dunia 2026

Baca lagi: Said Cermati Target Pertumbuhan Ekonomi 2027 dalam PEM PPKF 2027

24 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: